VAS BUNGA ( Persembahan Yang Tak Lekang oleh Waktu)


Hari ini merupakan hari yang paling membahagiakan dalam hidup ku. Hari yang cerah ini di mulai dengan suara ayam yang berkokok dengan suara yang merdu yang berasal dari gubug kecilku. Aku tinggal di gubug kecil di desa bernama desa anggrek putih rt 18 rw 14 daerah kalimantan barat. Aku tinggal dengan eyang ku. Karena orang tua ku tinggal di Bandung kota di mana aku dilahirkan. Hari ini merupakan hari yang membahagiakan karena hari ini merupakan hari di mana aku mulai bekerja sebagai guru di suatu sekolah. Aku gadis berumur 21 tahun namaku Bintang Aryani. Aku sering dipanggil Ani di kampung ku. Hari ini aku memulai pekerjaan yang sangat ku dambakan yaitu sebagai guru SD. Dari kecil aku sangat memimpikan menjadi guru SD karena menurutku guru SD merupakan pekerjaan yang menyenang kan, karena setiap hari bertemu dengan anak anak kecil yang lucu dan bermacam - macam.
          Karena di daerahku minim sekali akan pendidikannya, maka aku juga berniat untuk mencerdaskan anak anak di sini agar kelak mereka bisa menjadi orang yang dapat membanggakan bangsa dan negara, dan berguna untuk negara. Sekolah di mana tempat aku mengajar berjarak 3km dari rumahku, jadi aku harus berangkat pagi pagi sekali agar aku tidak terlambat mengajar di sekolah tersebut. Meskipun seperti itu aku lihat anak anak di sini sangat bersemangat untuk belajar, meski mereka tak memakai seragam tapi semangat mereka melebihi anak anak lain yang bersekolah dengan mengenakan seragam.     
         Hari ini hari pertama aku mengajar. Aku masuk di kelas pertama yaitu kelas 1 yang pada saat itu hanya ada satu kelas yang berisi sekitar 10 siswa. Aku membuka pelajaran ku dengan salam, dan murid murid pun menjawab nya dengan wajah ceria seakan penuh harapan. setelah itu akupun mulai memperkenalkan diri. Ada satu anak yang bertanya " Ibu berasal dari mana ?" " Ibu berasal dari kota Bandung, siapa yang tau tentang kota Bandung?" jawabku. Ada satu anak yang menjawab lagi dengan lucunya " kota bandung itu ibu kota negara kita kan bu ?" dengan wajah yang terlihat lucu, seakan dia tahu jawabannya benar. Sejenak aku terdiam dan berpikir “siapakah yang seharusnya mencerdaskan anak anak ini apabila guru hanya menginginkan bayaran tanpa memperhatikan kualitas mapel yang mereka ajar ?” “ meski mereka berada jauh dari keramaian kota, jauh dari alat transportasi, tapi semangat mereka bagai besi baja yang tak bisa patah dengan mudah.”    
         “Bandung merupakan kota yang terletak di pulau jawa dan berada gunung yang suasananya dingin dan di sana ramai akan penduduknya. “ sanggah ku mengenai jawaban anak imut itu. Anak itu bernama mawar, melihat anak itu aku jadi bersemangat mengajarkan mereka apa yang ku ketahui. Hari pertama ku mengajar sungguh lah menyenangkan bertemu anak anak yang lucu, dan mendengarkan suara mereka saat berbicara merupakan suatu kesenangan tersendiri dalam mengajar. Pada keesokan hari nya aku kembali mengajar di sekolah tersebut aku di sambut meriah oleh anak anak kelas satu itu “Selamat pagi bu guru…” suara mereka yang lucu membuatku bersemangat dalam mengajar. Meski gajiku di sini tidak cukup untuk membantu eyang ku yang sudah tua dan makan ku sehari hari  tapi mengajar merupakan cita-cita ku dari dulu. Jadi apapun yang terjadi aku menikmatinya, apalagi di dukung dengan murid murid yang ramah dan bersemangat.  
         Hari itu aku mengajar ilmu pengetahuan social yang kuajarkan adalah bagaimana kita bisa menjaga lingkungan hidup dengan baik dan benar. Di tengah tengah aku mengajar seorang murid bertanya “ Bu guru, apakah bumi ini bisa rusak ? lalu apa sebabnya ?” “ bumi merupakan tempat tinggal kita apabila kita tidak menjaga nya dengan sepenuh hati maka bumi juga akan rusak, “ jawabku “ anak anak sebenarnya satu satunya penyebab bumi kita tercinta ini rusak adalah karena manusia, manusialah yang telah membuat kerusakan di bumi. Siapa yang bisa memberi contoh perbuatan manusia yang merusak bumi ?” lanjutku. Sebentar suasana kelas hening lalu salah satu murid laki laki namanya bagas menjawab” penebangan hutan bu !” denagn lantang dia menjawab “ benar sekali bagas , contoh dari perbuatan manusia yang  merusak bumi adalah penebangan hutan secara liar. “ lanjutku “ Teng teng teng “ bel pun telah berbunyi waktunya sekolah untuk hari ini selesai.
     Setelah menutup pelajaran aku menuju pintu kelas untuk mengantarkan murid murid pulang. Anak anak itu pun balik menyapa ku “Selamat siang bu …” Setelah beberapa bulan aku di sana aku mulai bisa menyatu dengan murid murid, dan  aku telah menganggap mereka sebagai anakku sendiri. Suatu hari eyang ku sakit keras dan aku tidak bisa masuk untuk mengajar karena harus merawatnya hingga dia sembuh. Murid murid ku menugguku di sekolah karena aku belum sempat mengantarkan surat ijin ke sekolah. Akhirnya kepala sekolah ku berkunjung ke rumah namanya Pak Rahmad. Aku berbicara dengan Pak Rahmad tentang masalahku aku harus menunggu eyang ku hingga dia sembuh, karena di sini tidak ada yang merawatnya, di sini dia hanya tinggal dengan aku. Dan mungkin aku akan keluar dari guru di sana karena aku tidak bisa terlalu lama meniggalkan eyangku. Pak Rahmad menyampaikan hal itu pada murid murid ku, dan mereka sangat sedih karena mereka sudah menganggapku sebagai ibunya sendiri. Aku pun sebenarnya juga tidak mau meninggalkan pekerjaan ku itu tapi karena kondisi aku harus merawat eyang ku yang sekarang sedang sakit keras.
          Sudah seminggu aku tidak mengajar rasanya hidup hampa tanpa ada tawa canda murid murid ku. Suara mereka yang lucu, menggemaskan dan masih banyak lagi. Suatu hari aku membuka jendela kamarku, udara sejuk memasuki kamarku dengan semilir. Aku pun membuka pintu depan rumah eyang ku dan kutemukan vas bunga dari tanah liat yang bergambarkan pohon, dan di sekelilingnya ada gambar anak anak yang sedang bergandengan diatas nya bertuliskan Murid SDn 25 SD, di mana aku mengajar yang dilanjutkan dengan tulisan yang tak beraturan tulisan anak SD kelas 1 yang bertuliskan “Kami di sekolah menunggu Bu Bintang kembali mengajar di sini, Kami kangen sama Bu Bintang. “ Membaca dan melihat lukisan gambar murid muridku air mataku bercucuran keluar dengan deras, “ terimakasih anak anak ibu akan menyimpan vas bunga pemberian kalian dengan baik baik.( sambil menangis terharu) “ saat aku memandang ke depan rumah di sana sudah berbaris murid murid ku dengan memakai seragam baru mereka dan lari menghampiriku, “ Bu guru……..” aku langsung memeluk mereka dengan erat air mata ku pun tak kuasa kubendung. Bagaikan bertemu kembali saudara atau anak yang telah lama hilang
   Oleh: Muh. Rois. Firsya. Izzata.L /premulung rtI rwVII sondakan laweyan

Komentar

Postingan Populer