SELEMBAR DAUN YANG TERAKHIR (Dilemma Ibu Kota Simbol Suatu Negara)
Suara klakson mobil yang sangat keras membangunkan ku dari tidurku. Saat itu pun aku mencoba membuka kedua mataku.Tempat kosku yang berada di pinggiran kota membuatku harus menikmati suasana seperti ini di setiap hariku. Jadi pemandangan seperti itu sudah menjadi teman pagiku dan warga sekitar yang tak pernah lekang oleh waktu. Saat aku terbangun, ku coba untuk mengambil jam yang terletak diatas meja sebelah tempat tidurku. Dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 06.00. Lalu aku bangun di pagi yang cerah ini mengambil air wudhu untuk sholat dhuha. Di hari minggu ini aku berencana untuk bersepeda melihat situasi kota metropolitan ini. Awalnya jalan masih sepi, aku bersepeda hingga jauh. Ketika pulang, aku mencari jalan pintas dan jalan bebas macet agar segera sampai di rumah. Tapi sayangnya, kemanapun ku kayuhkan sepedaku, aku selalu terjebak dalam kemacetan. Bagi penduduk kota metropolitan kondisi seperti ini, sudah menjadi makanan kami setiap hari.
Bahkan sudah menjadi menu utama yang mau tak mau harus kami nikmati. Kekesalanku ini tidak akan merubah segalanya dan hanya akan membuang-buang energiku saja. Ada orang bijak yang berkata “Benci & marah hanyalah akan menghabiskan energi positif dari diri kita saja.” Keadaan kota metropolitan ini memang perlu ada pembenahan atau semacam pengurangan kendaraan bermotor agar tidak menambah polusi, kemacetan dan kebisingan. Aku ingat apa yang di katakan nenek ku saat aku belum pindah ke kota ini. Katanya bahwa dulu kota ini merupakan kota di mana sawah berada di mana mana, kicau burung yang bersaut suatan mengisi pagi yang cerah tanpa polusi. Aku membandingkan dengan keadannya sekarang, sekarang kota ini bagaikan lautan kendaraan bermotor dan polusi. Bahkan sampah yang tidak terbendung yang memiliki bau yang tidak karuan. Aku sempat berfikir, apa ya yang bisa dibanggakan dari kota ini? Namun pemikiranku ini tak menyurutkan semangatku untuk terus mengayuh sepeda yang butut milik ayahku ini melewati keramaian kota dan menikmati suara suara yang tak asing lagi bagiku. Ketika aku melewati tempat pembuangan akhir, sungguh baunya yang busuk di tempat itu mampu mengalahkankan wanginya parfum yang tadi pagi ku pakai. Di sana aku melihat orang yang menggembalakan sapi dan kambing mereka di tumpukan sampah-sampah yang sudah membusuk. Padahal seharusnya kambing dan sapi itu di gembalakan di tempat yang luas di mana terdapat rumput rumput yang hijau, tetapi di kota ini malah hewan hewan tersebut di gembalakan di tempat pembuangan akhir. Yang mungkin mengandung zat zat yang berbahaya bagi sapi, dan kambing tersebut.
Aku juga sempat melewati seorang kakek yang sedang memulung sampah ,aku bingung dengan apa yang kulihat ini. Bagaimana tidak aku sudah banyak melihat orang orang yang sengsara dan memasang muka memelas dalam mencari nafkah di kota ini. Tapi, kakek yang kutemui ini beda, dia selalu memasang muka senyum penuh harapan dalam menghadapi hidup ini. Dia dengan hati yang bahagia dan ikhlas menjalani pekerjaan yang dia kerjakan. Bahkan dia bekerja dengan tersenyum seakan dia bahagia atas pekerjaan nya. Rasa ingintahuku pun timbul dan bertanya kepada kakek tersebut “ Kek, boleh tanya sebentar ?”tanyaku dengan nada sopan dan lirih. Kakek tersebut menjawab dengan wajah tersenyum “ Boleh, ada yang bisa saya bantu nak ?” “Enggak kek saya Cuma mau tanya, nama kakek siapa ? “ “ Oh , nama saya Zuan, “ jawab sang kakek dengan senyumnya yang indah. “Saya heran kek, kenapa kakek sudah tua begini mengerjakan pekerjaan yang seperti ini kek ?” Kakek itu menjawab dan tersenyum manis lalu menoleh padaku “ Anak saya satu, dan dia sekarang sudah menikah, dia tinggal di Kalimantan bersama istrinya, saya hanya tinggal berdua dengan istri saya, di gubug dekat kolong jembatan di seberang jalan sana, saya bekerja seperti ini untuk memenuhi kebutuhan sehari hari saya, karena sudah tidak ada lagi yang bisa menafkahi saya dan istri saya, sedangkan anak saya sudah lama tidak memberi kabar, yaah satu satu nya jalan ya bekerja seperti ini dek, meskipun pendapatan hanya Rp 5000 perhari namun cukup untuk makan kami berdua selama ini.” “ Tapi apakah kakek menikmati pekerjaan ini, karena dari tadi saya lihat kakek bekerja sambil senyum dan terlihat bahagia “tanyaku, “ Yaah, gini lah dek hidup itu merupakan suatu pilihan bagaimana kita menjalaninya, meski kami sekeluarga bekerja seperti ini tapi kamu memilih untuk menikatinya tanpa mengeluh agar lebih maksimal, tetapi hasil dari pekerjaan kami merupakan hasil yang halal jadi meski saya dan keluarga tidak bermasalah tentang pekerjaan ini, dan agar lebih indah lagi saya melakukan pekerjaan ini dengan ikhlas dan bahagia agar hasilnya lebih maksimal.” Jawab kakek, “ Ouwh , begitu ya kek. “jawab ku “ eh dek, ngomong ngomong adek kenapa kok bisa sampai sini ?” lanjut kakek. Aku terdiam sejenak0 “ Saya tadi berniat untuk bersepeda tapi kejebak macet jadi saya lewat sini saja biar agak memotong jalan. “ jawab ku “ Ya sudah, ada yang bisa saya bantu lagi dek ?“ tanya kakek, “ ouwh enggak kek sudah, terimakasih ya kek atas waktunya, maaf sudah meganggu kek. ” jawabku, “ Ouwh ya dek sama sama , gag papa kok dek, sekali kali mampir ya dek ke gubuk saya itu lho di seberang jalan ini “ kata sang kakek dengan tersenyum.
“ Ouwh, ya kek insyaallah saya akan mampir kalau ada waktu longgar aku pasti berkunjung”. “ Assalamu’alaikum wr. Wb” “ Wa’alaikum sallam wr. Wb.” Aku kagum pada sifat kakek yang menikmati apa yang telah diberikan kepada nya tanpa megeluh, dan bersyukur kepada Allah SWT atas rahmat yang telah Dia berikan kepada nya. Setelah percakapan itu aku melanjutkan perjalanan ku, tak terasa akhirnya aku tiba di kosan sekitar jam 12.45, rasanya tubuh pegal pegal, dan capek, tanpa salam aku langsung merebahkan tubuhku di kasur yang kecil dan keras ini, aku senang sudah bisa sampai di kosan. Dari perjalanan ku tadi aku mengambil sebuah pelajaran yaitu meski kita hidup di jaman yang susah atau di kota metropolitan ini tapi kita harus tetap menikmati hidup, maka hidup akan terasa lebih mudah dan menyenangkan, dan meski keadaan di kota metropolitan ini sudah rusak dan hancur bagai tak ada kehidupan, tapi ini merupakan kewajiban kita untuk memperbaiki apa yang telah rusak lalu menjaga apa yang telah kita perbaiki tadi. Hanya berdiam diri bukanlah suatu penyelesaian. Tapi tindakan yang nyata lah kemudian akan membawa kita kepada suatu keberhasilan yang nyata pula. Dan tetaplah bersyukur pada Tuhan yang telah memberi kita sebuah kehidupan yang berarti banyak bagi kita sendiri dan orang lain. Aku teringat perkataan kakek “ meski saya bekerja sebagai pemulung tapi saya menikmati hidup sebagai pemulung yang masih bisa hidup sehat, dan agar lebih indah lagi saya melakukan pekerjaan ini dengan ikhlas dan bahagia agar hasilnya maksimal.” Dengan menikmati hidup kita bisa tenang tanpa ada tekanan batin. Dan aku juga mulai teringat kata-kata nidji pada syair lagunya “ menarilah dan terus tertawa ,walau dunia tak seindah surga , bersyukurlah pada yang kuasa , cinta kita di dunia ……… selamaya ……..”
Komentar
Posting Komentar