Dua Tiga Langkah Kecil yang Melebar ....
Hai perkenalkan namaku Faizza Nur Khasanah. Aku tinggal di sebuah rumah kecil beratapkan kardus. Aku tinggal tepat di sebuah kolong jembatan di Ibu kota. Aku adalah anak sebatang kara yang telah di buang oleh kedua orang tuaku. Yang mungkin aku adalah korban dari perbuatan kedua orang tuaku yang tidak bertanggung jawab. Yang juga sering orang menyebutku dengan kata " Anak Haram..." Kadang aku berfikir, Benarkah aku ini anak haram ? Bukan kah semua manusia yang tercipta di bumi ini haram untuk di makan? Apa sekarang sudah boleh ya memakan sesama ? Aku adalah gadis umur 13 tahun. Aku tau namaku dari sepucuk surat yang mungkin ditinggalkan oleh orang tuaku semasa aku masih bayi. Kini aku hidup sendiri, mencari makan sendiri, dan berjuang hanya untuk mendapatkan sesuap nasi.
Sesuap nasi ya? Bahkan mungkin hari ini pun aku belum mendapat apapun dari aku mengamen seharian tadi. Hasil ku mengamen sehari tadi di rampok oleh preman preman gadung yang mungkin mereka seperti tak memakai baju dan berkeliling kota alias tak punya malu. Kadang pula aku mnggerutu bahkan mengutuk kedua orang tuaku. " Kenapa mereka membuangku? kenapa ? " Namun pikiran pikiran itu hanya akan membunuhku kelak. Di mana pikiran itu takkan pernah ada jawabannya. Dan pikiran itu pula tidak akan mengisi perutku yang selalu kosong setiap harinya. Sekolah, semua anak di dunia ini mungkin mengidam idamkan yang namanya sekolah. Tapi tidak dengan aku, aku berfikir buat apa sekolah kalau aku bisa mencari uang dengan tanpa sekolah. Dan apakah sekolah itu berguna? Buktinya orang orang yang di atas sana di mana pendidikan mereka tidak diragukan lagi, di mana ilmu mereka mungkin telah tinggi mencapai langit namun apa mereka berguna? Mereka hanya menjadi sampah masyarakat yang hanya bisa membuat bau negara ini semakin busuk. Jadi bergunakah sekolah ? Ya mungkin berguna bagi sebagian orang. Namun tidak untukku, sudah cukup untukku susah membeli nasi untuk makan. Yang penting aku masih punya iman moral dan keahlian yang cukup untuk ku bisa bertahan hidup. Dulu aku adalah seorang ateis atau orang yang tidak memiliki agama, karena memang aku berbeda di mana anak anak lainnya dididik orang tua nya dengan agama keluargamereka masing masing, aku tak punya keluarga untuk itu. Hingga suatu hari aku duduk di depan masjid di sana aku melihat seorang ustad. Dengan penampilan sederhana dan dengan sorban yang melilit di lehernya. Baju putih serta celana putih gamis tak luput menjadi pakaiannya. Dia berjalan mendekatiku dan berkata " Assalamu'alaikum..." Aku hanya terdiam saja mendengar perkataan pak ustad itu. Aku sering mendengar orang mengucapkan kalimat itu namun aku bingung bin enggak tau cara menjawabnya. Pak ustad itupun mengucapkan kata itu sekali lagi " Assalamu'alaikum..." Lalu akupun akhirnya menjawab sebisaku " Ada apa pak ustad ? " Lalu pak ustadpun berkata kembali " Kalau di tanya Assalamu'alaikum jawabnya Wa'alikum sallam oke ... " Sejak saat itulah aku mengerti bagai mana cara menjawab salam yang baik. Lalu pak ustadpun bertanya padaku " Hai gadis cantik siapa namamu ? dan sedang apa kau di sini sendiri..?" Aku pun menjawab " Faizza Nur Khasanah pak ..."
Sesuap nasi ya? Bahkan mungkin hari ini pun aku belum mendapat apapun dari aku mengamen seharian tadi. Hasil ku mengamen sehari tadi di rampok oleh preman preman gadung yang mungkin mereka seperti tak memakai baju dan berkeliling kota alias tak punya malu. Kadang pula aku mnggerutu bahkan mengutuk kedua orang tuaku. " Kenapa mereka membuangku? kenapa ? " Namun pikiran pikiran itu hanya akan membunuhku kelak. Di mana pikiran itu takkan pernah ada jawabannya. Dan pikiran itu pula tidak akan mengisi perutku yang selalu kosong setiap harinya. Sekolah, semua anak di dunia ini mungkin mengidam idamkan yang namanya sekolah. Tapi tidak dengan aku, aku berfikir buat apa sekolah kalau aku bisa mencari uang dengan tanpa sekolah. Dan apakah sekolah itu berguna? Buktinya orang orang yang di atas sana di mana pendidikan mereka tidak diragukan lagi, di mana ilmu mereka mungkin telah tinggi mencapai langit namun apa mereka berguna? Mereka hanya menjadi sampah masyarakat yang hanya bisa membuat bau negara ini semakin busuk. Jadi bergunakah sekolah ? Ya mungkin berguna bagi sebagian orang. Namun tidak untukku, sudah cukup untukku susah membeli nasi untuk makan. Yang penting aku masih punya iman moral dan keahlian yang cukup untuk ku bisa bertahan hidup. Dulu aku adalah seorang ateis atau orang yang tidak memiliki agama, karena memang aku berbeda di mana anak anak lainnya dididik orang tua nya dengan agama keluargamereka masing masing, aku tak punya keluarga untuk itu. Hingga suatu hari aku duduk di depan masjid di sana aku melihat seorang ustad. Dengan penampilan sederhana dan dengan sorban yang melilit di lehernya. Baju putih serta celana putih gamis tak luput menjadi pakaiannya. Dia berjalan mendekatiku dan berkata " Assalamu'alaikum..." Aku hanya terdiam saja mendengar perkataan pak ustad itu. Aku sering mendengar orang mengucapkan kalimat itu namun aku bingung bin enggak tau cara menjawabnya. Pak ustad itupun mengucapkan kata itu sekali lagi " Assalamu'alaikum..." Lalu akupun akhirnya menjawab sebisaku " Ada apa pak ustad ? " Lalu pak ustadpun berkata kembali " Kalau di tanya Assalamu'alaikum jawabnya Wa'alikum sallam oke ... " Sejak saat itulah aku mengerti bagai mana cara menjawab salam yang baik. Lalu pak ustadpun bertanya padaku " Hai gadis cantik siapa namamu ? dan sedang apa kau di sini sendiri..?" Aku pun menjawab " Faizza Nur Khasanah pak ..."
" Wah cantiknya namamu, sedang apa kau di sini sendiri ? Mau sholat? " Tanya pak ustad lagi... " Ah enggak kok pak ustad saya cuma baru istirahat sebentar habis ngamen.." Jawabku, Dia pun bertanya kembali " Udah sholat kah ?" Dan akupun mulai risih ditanya tanya seperti itu, akhirnya aku cuma menggelengkan kepala saja. Pak ustad itu pun memberiku makanan yang berupa roti coklat, akupun heran "kok dia tiba tiba ngasih aku roti coklat ?" Sambil agak sedikit menjauhkan mukaku dari roti coklat itu. " Ayo terima saja gpp kok ini kan cuma roti coklat, enggk ada racunnya kok, lagi pula keliatannya kamu laper ya ?" setelah perkataan pak ustad itu akupun langsung mengambil roti coklat itu dan langsung memakannya, memang aku belum makan seharian, tapi tetep aja heran "bagaimana bisa pak ustad itu tau kalau aku lagi kelaperan ya?" " Dah gg usah dipikirin, sekarang yang penting kamu maem dlu ..."
Komentar
Posting Komentar